Wajar bagi manusia untuk mengalami ketakutan dan kekhawatiran, terutama di hadapan ancaman yang tidak terhindarkan. Keduanya merupakan mekanisme alami tubuh untuk merespons bahaya, meskipun demikian tidaklah baik jika ketakutan dan kekhawatiran tersebut menguasai serta mendominasi kita. Apabila hal tersebut terjadi maka kemampuan kita untuk menilai sebuah peristiwa dan mengambil keputusan logis. Sebagai umat beriman, kita juga diajarkan untuk mengatasi ketakutan dalam keberserahan penuh kepada Allah. Seperti pesan yang dapat kita ambil melalui perikop berikut ini.
Bacaan kali ini mengambil sebuah situasi krisis yang sangat konkret yakni perang Syro-Efraim pada abad ke-8 SM. Pada masa itu Raja Ahas memerintah Yehuda. Kerajaan Aram (di bawah Rezin) dan Israel Utara/Efraim (di bawah Pekah) menjalin sebuah aliansi. Mereka ingin memaksa Yehuda bergabung melawan kekuatan besar yaitu Asyur. Saat itu Ahas menolak untuk bergabung dengan mereka, akibatnya Rezin dan Pekah mengepung Yerusalem untuk memaksa Ahas tunduk pada keinginan mereka. Ketakutan besar membayangi kerajaan Yehuda. Hidup mereka di ambang batas kebinasaan.
Pada saat itulah melalui Yesaya, Tuhan meneguhkan Yehuda. Dengan sapaan yang begitu dekat, Ia mengatakan kepada umat-Nya untuk tidak takut dan tawar hati. Ia mengumpamakan dua musuh Yehuda itu sebagai dua puntung kayu api yang berasap, untuk mengatakan bahwa memang betul ancaman itu nyata tetapi tidak sebesar yang dibayangkan. Maka Tuhan memberikan jaminan bahwa rencana musuh tidak akan terlaksana. Mereka tidak akan berhasil menjatuhkan Yehuda. Sekarang pilihannya terletak pada Ahas, apakah ia mau percaya pada Allah serta mengatasi ketakutannya atau hendak berkutat pada diri sendiri yang penuh keterbatasan.
Hidup kita memang seringkali penuh tantangan dan pergumulan yang membuat gentar. Namun sebagaimana janji Tuhan kepada Yehuda, kita pun dapat menggantungkan harapan pada janji Tuhan tersebut. Ia tidak akan meninggalkan kita dalam kesulitan hidup, seberat apapun itu. Maka pilihannya terletak pada kita, apakah hendak berselimutkan kekhawatiran serta ketakutan, ataukah tetap melangkah dengan berani dengan bekal janji penyertaan-Nya.

























