Kesombongan manusia memang tiada batasnya. Segala sesuatu bisa menjadi dasar atau objek dari kesombongan kita. Namun sesungguhnya kesombongan tersebut tidak menghasilkan apapun dalam kehidupan. Malahan kebinasaan dan kehancuran saja yang dibawanya.
Perikop kita kali ini adalah tentang seorang raja yang pada akhirnya jatuh pada kebanggaan atas diri sendiri, sehingga membuatnya mengabaikan janji penyertaan Allah. Konteks yang melatarbelakangi perikop kita adalah saat Kerajaan Aram (di bawah Rezin) dan Israel Utara/Efraim (di bawah Pekah) menjalin sebuah aliansi. Mereka ingin memaksa Yehuda bergabung melawan kekuatan besar yaitu Asyur. Pada mulanya Ahas menolak dengan tegas. Rupanya hal tersebut karena ia begitu percaya diri dan berbangga hati pada kemampuannya menyelesaikan persoalan.
Allah berinisiatif menawarkan pertolongan-Nya bahkan meminta agar Ahas meminta tanda yang dapat membuktikan pertolongan-Nya. Namun Ahas tidak mau karena beralasan tidak ingin mencobai Tuhan. Sebuah tanggapan yang seolah-olah rendah hati, padahal menunjukkan kesombongannya yang merasa tidak membutuhkan Tuhan. Meskipun demikian Allah terus menyatakan kehadiran-Nya. Tinggal sebentar lagi Allah pasti akan menolong. Simbol Imanuel dihadirkan Allah untuk menyatakan bahwa Ia beserta kita. Ia menjaga serta melindungi umat-Nya.
Pada masa ini pertolongan Tuhan pun senantiasa terulur kepada umat-Nya. Menyediakan kekuatan untuk melalui jalan kehidupan sehari-hari. Persoalannya, kita seringkali seperti Ahas yang merasa mampu menghadapi segala sesuatu dengan kekuatan sendiri. Maka maukah kita merendahkan hati dan menyambut pertolongan-Nya? Jangan-jangan kesombongan dalam hati ini telah mengaburkan uluran tangan-Nya yang telah jelas-jelas tersedia di depan mata.

























