Kebijaksanaan dalam memilih merupakan bekal dalam menjalani kehidupan. Hidup kita penuh dengan serangkaian pilihan yang harus diambil dengan seksama. Umat beriman diundang untuk berhikmat mengambil keputusan dengan berbekal kepercayaan penuh kepada Allah yang mencipta dan menuntun kehidupan kita. Itulah yang hendak kita pelajari pada saat ini.
Pasal 8 menceritakan kelanjutan peristiwa yang dikisahkan di pasal 7. Yehuda tengah dalam Krisis. Mereka dikepung oleh Kerajaan Aram (di bawah Rezin) dan Israel Utara/Efraim (di bawah Pekah). Allah telah menawarkan dan menyatakan pertolongan-Nya. Namun sayangnya Ahas memilih menolak pertolongan Allah dan mengandalkan dirinya sendiri serta Kerajaan Asyur yang dikiranya dapat membebaskan Yehuda. Di bacaan kita, Allah kembali memberikan tanda, yakni Yesaya mendapatkan seorang putra yang diberi nama Maher-Syalal Has-bas, yang berarti “perampasan yang tangkas, perampokan yang cepat” (ay. 1-4). Arti nama ini menunjuk pada penyerangan Asyur ke Israel dan Aram, sehingga umat Ini akan mengalami kedahsyatan murka Allah melalui Asyur. Yehuda juga akan menghadapi Asyur. Asyur yang diharapkan Raja Ahas akan menjadi penolong ternyata justru akan menjadi musuh yang bengis dan kejam. Sungguh keputusan fatal telah diambil oleh Ahas sebagai seorang pemimpin. Jikalau sedari awal Ahas belajar untuk memilih dalam hikmat dan mempercayai Allah dengan sepenuh hati, mungkin penindasan Asyur tidak harus terjadi.
Sahabat Alkitab, pada saat ini kita pun diundang untuk berhikmat dalam memilih serta menyandarkan segala sesuatu hanya kepada Allah. Kita sering khawatir, takut, dan belum percaya penuh pada kuasa serta pertolongan Tuhan. Akibatnya kita cenderung mempercayakan kehidupan pada diri sendiri maupun orang lain. Belajarlah untuk memilih dalam hikmat Tuhan serta menyandarkan diri sepenuhnya pada Tuhan. Memang seringkali tidak mudah, tetapi percayalah pada kuasa Allah karena Ia tidak pernah sekali pun meninggalkan kita.

























