Dalam wacana dan percakapan yang berkembang akhir-akhir ini, terdapat pesimisme yang besar terhadap masa depan dunia ini. Perang yang terjadi di beberapa daerah di dunia, negara-negara yang semakin sibuk memikirkan dirinya sendiri, hingga laju kerusakan lingkungan yang sangat memprihatinkan. Nada-nada percakapan sehari-hari pun menjadi begitu kelabu dan suram. Benarkah sudah tiada lagi harapan yang dapat menjadi tempat bagi kita untuk bernaung. Masih adakah harapan dalam dunia yang bergejolak ini? Inilah pertanyaan yang memandu refleksi kita saat ini.
Bacaan kita kali ini juga menggambarkan situasi muram yang serupa. Sebagaimana tergambarkan dalam ayat 21-22 yang bernuansakan kegelapan, kesesakan, serta hidup tanpa arah. Namun Allah tidak tinggal diam dalam situasi tersebut karena Ia akan segera menghadirkan pembebasan dan penyelamatan bagi umat-Nya. “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang tinggal di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar (9:1),” Pengharapan tersebut disimbolkan sebagai terang yang akan datang. Tangis pun juga berubah menjadi sorak sorai sukacita.
Kuk dan gandar adalah simbol dari beban yang menekan dengan begitu hebatnya atas bangsa tersebut, keduanya akan dilepaskan (ay. 3). Sementara itu tongkat penindas akan dipatahkan sendiri oleh Allah. Tidak boleh ada yang merasa lebih berkuasa daripada Allah. Terdapat rujukan terhadap Midian, sebagai referensi kemenangan Israel di masa lalu yang juga akan terjadi di masa mendatang. Nuansa politis serta pertentangan antar bangsa sangat kuat pada nubuat di pasal ini. Karena memang masih meneruskan apa yang dituliskan di pasal sebelumnya.
Pengharapan itu dirumuskan lagi dalam kehadiran seorang anak yang akan menjadi pemimpin. Selayaknya raja, gelar-gelar disematkan padanya yakni penasihat ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai. Gelar itu menampilkan visi kepemimpinan berbeda yang akan dikerjakan Allah yakni pemimpin yang akan mengedepankan keadilan dan berada dalam ketertundukan penuh kepada-Nya. Belakangan orang-orang percaya mengasosiasikan ayat ini dalam kehadiran Yesus. Namun jauh sebelum itu Allah telah lebih dahulu menyapa umat-Nya dalam segala kekhasan dan konteks yang dihadapi.
Dengan demikian marilah kita dengan berani mengakui bahwa pengharapan akan selalu ditegakkan-Nya. Ia hadir untuk menyapa umat-Nya dan membawa terang bagi bangsa-bangsa yang tunduk pada kehendak-Nya. Kehidupan dunia saat ini mungkin sedang tidak baik-baik saja, tetapi percayalah akan kasih serta tuntunan-Nya. Allah memang tidak menjanjikan bahwa dunia akan bebas dari tantangan serta pergumulan, tetapi Ia selalu hadir untuk menuntun serta membawa terang bagi dunia. Maka dari itu marilah kita memohon agar Tuhan berkenan untuk memakai kita dalam menyatakan pengharapan bagi dunia dengan menunjukkan pilihan jalan hidup yang berbeda serta mengedepankan firman dan kehendak-Nya.

























