Ilusi di Balik Kekuasaan

Renungan Harian | 18 Mei 2026

Ilusi di Balik Kekuasaan

Ada satu hal yang sering tidak kita sadari tentang kekuasaan: ia bukan hanya memberi kemampuan untuk bertindak, tetapi juga perlahan membentuk cara seseorang melihat dirinya sendiri. Semakin besar kuasa yang dimiliki, semakin mudah seseorang percaya bahwa keberhasilan yang ia capai adalah hasil dari dirinya sendiri. Tanpa disadari, muncul keyakinan bahwa ia adalah pusat dari segalanya: ia mengendalikan, menentukan, bahkan berhak atas apa yang ia capai. Di titik itulah, kekuasaan mulai berubah menjadi ilusi.

 

Yesaya 10:5-19 memperlihatkan dinamika ini melalui kisah Asyur. Secara historis, Asyur adalah kekuatan besar pada zamannya, sebuah imperium yang meluas dari sungai Efrat hingga ke Laut Tengah. Dalam teks ini, Tuhan sendiri menyatakan bahwa Asyur adalah “cambuk murka-Ku,” alat yang dipakai untuk menghukum bangsa-bangsa, termasuk Yehuda yang telah menyimpang. Namun Asyur tidak pernah melihat dirinya sebagai alat. Ia melihat dirinya sebagai pusat. Kemenangan demi kemenangan membuatnya percaya bahwa ia unggul karena kekuatan dan kebijaksanaannya sendiri. Raja Asyur dengan sombong menyebutkan kota-kota yang telah ditaklukkannya, seolah-olah semua itu adalah bukti kehebatannya. Ia bahkan menyamakan Allah Israel dengan dewa-dewa bangsa lain, menganggap bahwa Tuhan hanyalah salah satu dari sekian banyak kekuatan yang bisa ditaklukkan.

 

Raja Asyur mengira dirinya otonom secara mutlak, padahal keberadaannya bergantung pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Yesaya menggambarkan absurditas ini dengan metafora yang sangat tajam: kapak yang memegahkan diri terhadap orang yang mengayunkannya. Alat yang seharusnya berguna justru menganggap dirinya lebih tinggi dari pemakainya. Oleh karenanya, Tuhan sendiri yang akan merendahkan Asyur. Apa yang tampak kuat dan tak tergoyahkan akan habis seperti hutan yang terbakar. Dari yang kecil hingga yang besar, dari yang lemah hingga yang mulia, semuanya akan mengalami kehancuran. Gambaran ini bukan sekadar hukuman, tetapi pengungkapan realitas yang sebenarnya: bahwa segala kemegahan yang dibangun di atas kesombongan sesungguhnya sangatlah rapuh.

 

Sahabat Alkitab, apa yang terjadi di zaman Yesaya sangatlah dekat dengan situasi hidup kita hari ini. Kekuasaan tidak selalu berbentuk politik atau militer; ia bisa hadir dalam bentuk pengaruh, posisi, pengetahuan, bahkan kontrol atas hidup orang lain. Dan dari sanalah ilusi ini dapat bertumbuh: ketika kita mulai percaya bahwa semua yang kita miliki adalah hasil usaha kita semata, sehingga perlahan melupakan bahwa ada Tangan Tuhan yang menopang, bahkan dalam hal-hal yang tidak kita sadari dan tidak sepenuhnya kita kendalikan. Karena itu, kita perlu mengingat bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya kita miliki. Ia adalah sesuatu yang dipercayakan. Dan sebagai sesuatu yang dipercayakan, ia harus dipertanggungjawabkan.

Logo LAILogo Mitra

Lembaga Alkitab Indonesia bertugas untuk menerjemahkan Alkitab dan bagian-bagiannya dari naskah asli ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Kantor Pusat

Jl. Salemba Raya no.12 Jakarta, Indonesia 10430

Telp. (021) 314 28 90

Email: info@alkitab.or.id

Bank Account

Bank BCA Cabang Matraman Jakarta

No Rek 3423 0162 61

Bank Mandiri Cabang Gambir Jakarta

No Rek 1190 0800 0012 6

Bank BNI Cabang Kramat Raya

No Rek 001 053 405 4

Bank BRI Cabang Kramat Raya

No Rek 0335 0100 0281 304

Produk LAI

Tersedia juga di

Logo_ShopeeLogo_TokopediaLogo_LazadaLogo_blibli

Donasi bisa menggunakan

VisaMastercardJCBBCAMandiriBNIBRI

Sosial Media

InstagramFacebookTwitterTiktokYoutube

Download Aplikasi MEMRA


© 2023 Lembaga Alkitab Indonesia