Ada satu kecenderungan yang cukup kuat dalam kehidupan kita hari ini, yang tanpa disadari perlahan membentuk cara kita memandang diri sendiri maupun orang lain. Kita mulai menilai diri dari seberapa “berguna” kita: seberapa produktif kita di pekerjaan, seberapa besar kontribusi kita, dan seberapa besar dampak yang bisa kita berikan. Pelan-pelan, nilai diri kita menjadi terikat pada fungsi. Sehingga ketika kita merasa tidak lagi menghasilkan, tidak lagi dibutuhkan, atau tertinggal dari yang lain, muncul perasaan seolah-olah kita kehilangan arti.
Di tengah cara pandang seperti itu, Yesaya 10:20-34 menghadirkan perspektif yang sangat berbeda. Teks ini berbicara tentang “sisa”, sekelompok kecil dari umat Israel yang tersisa setelah krisis dan penghukuman. Secara historis, ini berkaitan dengan ancaman dan serangan Asyur, kekuatan besar yang menekan Yehuda. Dalam situasi itu, banyak yang hancur, banyak yang hilang. Yang tersisa hanyalah sedikit. Namun justru di situlah titik baliknya. Yesaya menegaskan bahwa “sisa” ini bukan sekadar orang-orang yang kebetulan selamat, melainkan mereka yang kembali kepada Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang telah belajar, melalui pengalaman pahit, bahwa bersandar pada kekuatan dunia tidak pernah benar-benar menyelamatkan. Secara sosial, mereka mungkin tampak kecil, tidak signifikan, bahkan tidak punya daya tawar. Tetapi secara teologis, merekalah yang menjadi pusat perhatian Tuhan.
Di sinilah kita melihat sesuatu yang penting: Tuhan tidak bekerja dengan logika mayoritas. Ia justru membangun masa depan melalui yang tersisa, yang kecil, yang tampaknya tidak berarti. Bahkan ketika Asyur datang seperti badai dan menimbulkan kepanikan besar, pada akhirnya Tuhan sendirilah yang bertindak. Kuasa besar yang tampak tak terkalahkan itu digambarkan seperti hutan yang ditebang habis. Apa yang terlihat kokoh ternyata bisa runtuh dalam sekejap.
Sahabat Alkitab, mungkin dalam dunia ini seringkali nilai seseorang ditentukan dari ‘kegunaannya’. Yang kuat dianggap penting, yang produktif dianggap berharga, yang kecil dan tersisa dianggap tidak relevan. Namun, Yesaya membalik logika itu. Di hadapan Tuhan, nilai manusia tidak ditentukan sekadar oleh ‘fungsinya’, melainkan oleh relasi. Oleh fakta bahwa ia adalah milik Tuhan dan kembali kepada-Nya. Maka, marilah kita menata ulang cara kita melihat diri sendiri dan orang lain. Mungkin ada masa di mana kita merasa “tidak lagi berguna”, tidak seproduktif dulu, tidak sekuat dulu, tidak seberpengaruh dulu. Namun ingatlah bahwa kita tidak pernah berhenti berharga di hadapan Tuhan.

























