Beberapa bulan terakhir, ruang publik kembali dipenuhi percakapan tentang menyempitnya kebebasan sipil, meningkatnya intimidasi terhadap kritik, serta kecemasan masyarakat terhadap arah demokrasi. Sejumlah laporan media menyoroti bagaimana aktivis, jurnalis, akademisi, dan masyarakat sipil mulai merasakan tekanan ketika suara mereka dianggap mengganggu stabilitas atau citra kekuasaan. Namun yang paling berbahaya sebenarnya bukan ketika orang dibungkam secara paksa. Yang lebih berbahaya adalah ketika masyarakat perlahan memilih diam karena ketakutan. Ketika kritik dianggap ancaman, sementara pujian menjadi syarat keamanan. Akibatnya, banyak orang hidup di bawah bayang-bayang kecemasan yang tidak selalu terlihat.
Sejarah manusia ternyata terus berulang. Ribuan tahun sebelum dunia modern mengenal propaganda politik, pencitraan kekuasaan, dan pengendalian opini publik, nabi Yesaya telah menyaksikan pola yang serupa. Dalam Yesaya 13, Babel tampil bukan sekadar sebagai kota besar, melainkan sebagai simbol imperium yang mabuk oleh kekuatannya sendiri. Babel membangun kemegahan melalui penaklukan, eksploitasi, deportasi massal, dan ketakutan bangsa-bangsa lain. Kota itu tampak begitu kuat, seolah tidak mungkin runtuh. Di tengah dunia yang gemetar terhadap Babel, Yesaya menghadirkan suara yang berbeda. Ia menyampaikan nubuat yang terdengar mustahil: kekuasaan sebesar itu pun dapat dijatuhkan. Tuhan digambarkan mengumpulkan bangsa-bangsa dari negeri yang jauh untuk melaksanakan penghukuman atas imperium yang congkak itu. Bagi bangsa Israel yang hidup dalam pembuangan, nubuat ini menjadi kabar pengharapan. Mereka diingatkan bahwa sejarah tidak sepenuhnya berada di tangan para penguasa, sebab Allah tetap bekerja bahkan di tengah geopolitik dunia yang tampak dikuasai tirani.
Di hadapan Allah, semua kesombongan kekuasaan hanyalah sesuatu yang sementara. Takhta yang paling megah pun tetap rapuh ketika dibangun tanpa keadilan dan belas kasihan. Yesaya bahkan tidak hanya menubuatkan kehancuran para penguasa, tetapi juga runtuhnya seluruh sistem yang menopang kemegahan Babel. Kota yang semarak di antara kerajaan-kerajaan itu akan berubah menjadi reruntuhan sunyi, tempat binatang liar berkeliaran. Ini merupakan kritik yang tajam, bahwa kemegahan yang dibangun di atas penderitaan rakyat pada akhirnya akan kehilangan kehidupan di dalamnya.
Bukankah dunia modern sering mengulang pola yang sama? Di satu sisi, pembangunan dipamerkan dengan begitu megah, angka pertumbuhan ekonomi diumumkan dengan penuh kebanggaan, dan citra stabilitas dijaga sedemikian rupa; namun disisi lain, banyak rakyat kecil kehilangan pekerjaan, orang-orang takut bersuara, dan masyarakat semakin lelah menghadapi ketidakadilan. Dalam situasi seperti itu, kekuasaan kerap terlalu sibuk menjaga citranya sendiri hingga kehilangan kepekaan untuk mendengar jeritan rakyatnya. Di tengah realitas ini, suara kenabian menjadi penting sebagai pengingat bahwa penguasa bukanlah Tuhan dan sistem politik bukan sesuatu yang mutlak. Yesaya menegaskan bahwa Allah tidak diam terhadap tirani, Ia melihat air mata mereka yang tertindas dan mendengar suara yang dibungkam. Maka, bagi kita pertanyaannya bukan hanya tentang bagaimana kita menilai kekuasaan di luar diri kita, tetapi juga bagaimana kita menjaga agar hati kita sendiri tidak ikut mabuk oleh keinginan untuk berkuasa, membungkam, atau menjadi tuli terhadap suara yang lemah. Di tengah dunia yang riuh oleh kepentingan dan ketakutan, kiranya kita tetap memiliki keberanian untuk mendengar, menyuarakan kebenaran, dan hidup di bawah terang keadilan Allah.

























