Nubuat tentang kejatuhan Babel disampaikan kembali oleh Tuhan melalui Nabi Yesaya. Pada mulanya nampak tidak terlalu jelas yakni dengan menggunakan istilah “padang gurun di tepi laut”. Satu sisi untuk menggambarkan kondisi geografis Babel tetapi di sisi lainnya menampilkan citra kosong, tandus, dan gersang seolah tidak ada kehidupan. Lambang dari imperium yang seolah-olah tidak terkalahkan tetapi pada akhirnya akan hancur juga.
Nabi menerima penglihatan ini dengan begitu gemetar, takut, bahkan kesakitan. Bagaimanapun satu bangsa akan jatuh dan orang-orang didalamnya akan tercerai-berai. Mulai dari para penghuni istana hingga rakyat biasa. Dihadapan kekejaman tiada terperi itu semua orang hanyut didalamnya. Kemudian digambarkanlah dengan begitu gamblang kejatuhan itu, “sudah jatuh, sudah jatuh Babel, dan segala patung berhalanya berserakan di tanah.” Rujukan terhadap patung berhala menjadi penting untuk menggambarkan bahwa berhala-berhala itu pada akhirnya sama sekali tidak memiliki kuasa. Kemudian berturut-turut bangsa-bangsa lain juga dinubuatkan kejatuhannya oleh Yesaya. Sungguh tidak ada kuasa yang bertahan selamanya.
Bacaan kita kali ini kembali menyadarkan kita bahwa pada akhirnya kuasa yang abadi hanyalah kuasa Tuhan semata. Pada hari ini kita juga dipertontonkan kesombongan-kesombongan para penguasa dunia yang merasa begitu mudah membolak-balikkan kehidupan sesamanya. Entah itu melalui perang atau kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Kiranya mereka dapat mengingat kesementaraan dari kuasa yang mereka miliki. Sementara itu bagi kita, ingatan akan kesementaraan kuasa penguasa-penguasa dunia, membuat kita kembali menegakkan panggilan untuk berjuang melawan ketidakadilan serta berharap pada Tuhan semata sang Penguasa Dunia.
























